Press "Enter" to skip to content

Ada Untung dan Banyak Sisi Ruginya Jika AHY Jadi Menteri

JAKARTA – Peluang tokoh Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono atau akrab disapa AHY, untuk duduk dalam Kabinet Kerja jilid II yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi), tentunya sudah dipertimbangkan dengan matang oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua Umum Partai Demokrat.

Pendapat ini disampaikan Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo
dihubungi wartawan, Minggu (20/10/2019), menanggapi peluang AHY yang banyak disebut akan menjadi menteri Jokowi.

Karyono menyatakan, SBY yang merupakan ayah dari AHY, pasti mempertimbangkan dengan sangat matang untuk mendorong atau tidak AHY menjadi menteri.

“Ada untung dan banyak juga sisi ruginya jika AHY jadi menteri. Pak SBY pasti berpikir matang soal ini,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, nilai plus jika AHY menjadi menteri adalah soal pengalaman. Sebab selama ini putra SBY itu dianggap masih kurang pengalaman. Dengan menjadi menteri, maka AHY akan dapat panggung politik untuk menempa diri.

“Namun dalam strategi lebih jauh, saya rasa kurang strategis jika AHY yang disung jadi menteri, karena panggungnya sangat terbatas, dan posisinya pun akan dilematis,” katanya.

Selain ruangnya terbatas, menurut Karyono, juga harus liat menterinya menteri apa. Kalau pun misalnya Menko, jelas kurang strategis kalau mau dikapitalisasi menjadi elektoral 2024.

“Kan jabatan Menko itu sifatnya hanya koordinatif,” jelas Karyono.

Oleh sebab itu, Karyono menilai SBY pasti menyiapkan strategi lain, misalnya dengan mendorong orang lain untuk dititipkan menjadi menteri dalam kabinet kerja II.

“Pak SBY pasti paham betul soal ini. Memang Demokrat masuk kabinet, tapi bukan AHY. Bisa juga misalnya Gita Wirawan, Mariae Elka Pangestu, ataupun sosok baru yang dipromosikan. Intinya adalah lebih baik mendorong orang lain. Bukan AHY,” tegasnya.

Dia juga mengulas, Demokrat adalah partai yang punya kans untuk maju mengusung kandidat Capres ataupun Cawapres 2024. Keputusan politik yang diambil saat ini pun tentu dengan mempertimbangkan hal tersebut.

“Demokrat punya kans, obsesi, dan punya peluang 2024. Makanya penuh perhitungan gitu loh. Berhitungnya di situ, kecuali ada deal politik dengan kekuatan dominan dalam pemerintahan sekarang. Misalnya kontraknya langsung 2024. Kalau begitu beda lagi,” terang Karyono Wibowo. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *