Press "Enter" to skip to content

AGING POPULATION DAN PELUANG DIASPORA PEKERJA INDONESIA

Negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi belakangan kelabakan soal angkatan kerja yang justru menjadi faktor utama pelambatan ekonomi. Negara seperti Cina, sebagian besar Eropa dan Jepang telah 5 tahun terakhir mengalami pertumbuhan negatif pada penduduknya. Cina misalnya, yang meningkat angka harapan hidupnya karena jaminan kesehatan yang lebih baik dan peraturan “satu keluarga-satu anak” – menjadi negara yang ‘menua’ melebihi hampir semua negara di dunia.

Diperkirakan pada 10 tahun mendatang, Cina, Jepang dan sebagian Eropa barat, piramida penduduknya akan didominasi manusia pada usia tua yang tak produktif. Cina dihuni lebih dari 9% penduduk di usia lebih dari 65 tahun, dan akan terus meningkat. Jepang diproyeksikan diisi manusia diatas 65 tahun sebanyak 38,8% pada tahun 2050 – saat ini 25,1%. Angkatan kerja menurun drastis dan pekerja penunjang ekonomi makin tipis.

Apapun penyebabnya, sebagian dipicu kebijakan kependudukan masing-masing negara, atau masalah kultural dan moral yang mensahkan perkawinan sejenis dan merebaknya keengganan membina hubungan dalam perkawinan serta gaya hidup ‘anak merepotkan’ – Indonesia perlu memandang hal ini sebagai peluang diaspora – melalui partisipasi pekerja Indonesia di luar negeri.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada 2 Oktober telah menyetujui RUU yang lebih memudahkan pekerja asing untuk bekerja di Jepang. Setelah RUU ini disahkan, diperkirakan akan ada tambahan lebih dari 500.000 pekerja asing profesional yang bisa bekerja di negeri sakura. Target mereka, 550.000 pekerja asing akan tercapai pada tahun 2025. Inisiatif Jepang ini adalah respon populasi yang makin renta, yakni terkurasnya angkatan kerja. Bagaimana peran dan peluang Indonesia?

Aging population telah menyebabkan penduduk usia lanjutnya membesar, artinya pekerja Indonesia pada sektor juru rawat lansia berpeluang meningkat pesat. Pun angkatan kerja bisa diisi pekerja migran Indonesia, termasuk di level “blue collar” untuk 5 sektor sejak 2019 mendatang. Dengan perlakuan yang sangat baik bagi pekerja migran baik dari standar gaji, fasilitas penunjang, disediakannya model magang yang tidak saja memberikan ketrampilan teknis tapi juga kepemimpinan dan wirausaha, Jepang akan menjadi destinasi diaspora Indonesia. “Jepang paling kompatibel dengan UU Pekerja Migran Indonesia,” kata Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah saat kunjungan ke Jepang, 6 November lalu.

UU No 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia mengamanatkan kondisi ideal bagi pekerja rantau Indonesia. Andai terimplementasi utuh, maka aging population yang menghinggapi beberapa negara, utamanya Jepang, menjadi sepenuhnya peluang yang bisa direbut Indonesia. Tidak hanya manfaat langsung bagi pekerja migran, tapi juga keluarga pekerja di Indonesia, dan ekonomi domestik secara tidak langsung.

Sayangnya, berbagai kendala menyebabkan Indonesia terlewati negara-negara yang baru berkiprah seperti Vietnam, Kamboja, Filipina dan Bangladesh. Dengan keseriusan negara-negara tersebut dalam melakukan seleksi, penyiapan bahasa dan pengembangan karakter, Indonesia perlahan terlampaui dari sisi jumlah pekerja dan rasio kelulusan ujian nasional yang dijadikan standar pekerja asing oleh Jepang. (*)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *