Press "Enter" to skip to content

Analis Cikini Studi: Investor Melakukan Buy, IHSG Kembali Uji Support

JAKARTA – Statement Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kalau dirinya telah berbicara dengan Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman dan berharap Arab Saudi dan Rusia untuk mengurangi produksi minyak sebanyak 10 juta hingga 15 juta barel per hari, karena kedua negara mengisyaratkan kesediaan untuk membuat kesepakatan mendorong kenaikan harga minyak mentah WTI sebesar +16.7% dan kemudian mendorong naik DJIA sebesar +2.24% berpotensi mendorong kembali naik IHSG dalam perdagangan Jumat ini ditengah semakin terus bertambahnya jumlah korban tewas secara global akibat Covid-19 mencapai 53,167 orang dan yang terjangkiti mencapai 1,015,059 orang per 2 April, dimana penyebaran Covid-19 yang paling cepat dan mengerikan terjadi di Benua Eropa yang telah menewaskan lebih dari 35,000 orang, di AS sendiri sudah menjangkiti 244,877 orang dengan jumlah yang tewas 6,070 orang, sementara di Indonesia Virus Corona sudah menjangkiti 1,790 orang dengan jumlah yang tewas 170 orang (Fatality Rate mencapai 9.5%).

Hal itu dikatakan analis dari Cikini Studi, Teddy Mihelde Yamin melalui keterangan tertulisnya, Jum’at (3/4/2020) di Jakarta dengan mengutip Worldometers Info.

Menurut Teddy yang juga seorang pengusaha itu, selanjutnya, naiknya harga komoditas seperti: Nikel +0.36% & Gold +2% juga berpotensi menjadi sentimen positif untuk market melakukan akumulasi beli Jumat ini. Kenaikan EIDO sebesar +5.5% semalam serta sebagian Bursa Asia Jumat pagi menjadi tambahan katalis bagi penguatan IHSG hari ini. Mengetahui IHSG berpeluang melanjutkan lanjutan kenaikan, ditengah secara valuasi masih banyak saham sangat attractive.

“Kami merekomendasikan sangat selektif jika investor ingin melakukan Buy maka dapat fokus atas saham dari Sektor Konsumer, Farmasi, Infrastruktur, FMCG, Otomotif Telko dan Rokok dalam perdagangan Jumat ini. IHSG kami perkirakan bergerak pada 4,484 – 4,667 adapun saham-saham yang kami rekomendasikan hari ini adalah INDF KLBF PGAS UNVR ASII ADRO INAF JPFA TLKM HMSP,” kata Teddy menegaskan.

Katanya, IHSG Consolidation period : kemungkinan dalam waktu dekat akan ada suatu keputusan apakah IHSG akan kembali uji Support terdekat yaitu MA10 di range 4315-4300, atau malah mencoba break out Resistance MA20 di sekitar 4650. Posisi Speculative Buy mulai menjadi opsi. Namun, harap ingat untuk menerapkan Money Management yang prudent dan Risk Management yang

Dinilai Teddy, secara umum bursa saham di developed economies bergerak menguat. Bursa saham benua kuning bergerak menguat pada perdagangan rabu kemarin. Indeks Hang Seng ditutup menguat +0.84% lalu indeks Shanghai ditutup menguat sebesar +1.69% dan Indeks Kospi ditutup menguat sebesar +2.34%.

Sementara itu, Dow Jones ditutup menguat sebesar +2.24% di level 21,413 hal ini sejalan dengan penguatan S&P 500 sebesar +2.28%. Wall Street ditutup menguat dikarenakan kenaikan harga minyak mentah dunia yang menguat tajam diatas +20% sehingga membuat harga saham Chevron dan Exxon Mobil naik tajam masing-masing 11% dan 7.7% namun data klaim asuransi pengangguran AS menjadi penahan penguatan bursa Wall Street yang mencatatkan 6,6 juta klaim, hal ini merupakan salah satu dari dampak pandemi COVID-19 yang terjadi di AS. Di samping itu, pasar komoditi, harga Emas menguat +2.30%, harga Minyak mentah WTI Crude Oil menguat +21.50% dan harga CPO melemah -1.24%.

Dijelaskan Direktur Eksekutif Cikini Studi itu, pada perdagangan 2 April, IHSG ditutup menguat sebesar +1.47% ke level 4,531 Sentimen penggerak pasar hari ini diantaranya menguatnya bursa saham Wall Street serta kenaikan tajam harga minyak mentah dunia menjadi katalis positif untuk perdagangan hari ini.

Selain itu, pelaku pasar juga masih memberi perhatian khusus pada penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia dengan stimulus-stimulus dan kebijakan yang sudah diberikan pemerintah untuk menahan beratambahnya jumlah korban dan dampak pada perekonomian Indonesia, terakhir patut juga kita cermati arus aliran dana asing ke pasar Indonesia yang cendrung negatif, di awal tahun 2020 sampai akhir bulan Maret ini tercatat Capital Outflow mencapai Rp 167.9 triliun, demikian Teddy Yamin. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *