Press "Enter" to skip to content

Analis: IHSG Menanti Dampak Penambahan Anggaran Belanja Negara dan Penerbitan Tiga Surat Utang Global

JAKARTA – Setelah selama seminggu lalu, IHSG naik +2.59% tetapi justru dimanfaatkan investor asing untuk melakukan aksi jual tercermin dari Net Sell sebesar Rp -1.87 triliun (sehingga Net Sell Asing Ytd mencapai Rp -12.66 triliun. Bahkan, diawal pekan ini ada peluang IHSG melanjutkan tren penguatannya seiring penguatan DJIA sebesar +1.22% serta EIDO sebesar +0.39% ditengah terus bertambahnya jumlah korban tewas secara global akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

“Sampai kemarin saja korban mencapai 114,201 orang dan yang terjangkiti mencapai 1,852,535 orang per 12 April, dimana penyebaran Covid-19 yang paling cepat terjadi di Benua Eropa yang telah menewaskan lebih dari 74,000 orang, dan di AS sendiri sudah menjangkiti 560,402 orang dengan jumlah tewas 22,105 orang, sementara di Indonesia Virus Corona sudah menjangkiti 4,241 orang dengan jumlah yang tewas 373 orang (Fatality Rate 8.8%),” beber Analis Cikini Studi, Teddy Mihelde Yamin dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/4/2020).

Menurut Teddy, naiknya harga beberapa komoditas, utamanya harga Gold naik tajam +4.07% serta Timah +3.11% & Nikel +1.63% berpotensi menjadi katalis tambahan bagi penguatan IHSG Senin ini. Disamping itu penguatan beberapa Bursa Asia Senin (13/4/2020) pagi menjadi tambahan faktor positif untuk IHSG menguat hari ini.

Dinilainya, uji Support IHSG diharapkan berhasil pada MA10 & 20 yang telah goldencross , menjadikan level 4600 sebagai Support terdekat pada trend naik jk.pendek yang telah mulai terbentuk ini. Jika up swing continues, maka seyogyanya IHSG akan kembali mencoba menguji level-level Resistance di bawah ini sebelum sampai pada Tujuan akhir dari teori berpasangan FR38.2 dengan FR61.8 terletak di area 5440-5500 : – Fibonacci Retracement 38.2 di angka 4850, – kemudian disusul FR50 sekaligus tutup gap di range angka bulat 5000- 5112. “ Yang mana nantinya juga akan bertemu dengan MA50 yang saat ini tengah turun perlahan menghampiri,” kata Teddy.

Mengetahui IHSG berpeluang melanjutkan penguatannya, ditengah secara valuasi banyak saham sangat menarik untuk dibeli, kami merekomendasikan sangat selektif jika investor ingin melakukan pembelian dan atau swing trade maka dapat fokus atas saham dari Sektor Logam Emas, Farmasi, Bank, Konsumer, FMCG dan Telko dalam perdagangan Senin ini. IHSG kami perkirakan bergerak pada 4,612 – 4,692 adapun saham-saham yang kami rekomendasikan hari ini adalah MDKA KAEF MYOR INAF UNVR ICBP TLKM ASII HMSP BDMN.

Dijelaskan Direktur Eksekutif Cikini Studi ini kalau mayoritas bursa saham di developed economies bergerak menguat. Bursa saham benua kuning bergerak bervariasi pada perdagangan akhir pekan kemarin. Indeks Hang Seng ditutup menguat +1.38% lalu indeks Shanghai ditutup melemah sebesar -1.04% dan Indeks Kospi ditutup menguat sebesar +1.33.

Sementara itu, Dow Jones ditutup menguat sebesar +3.44% di level 22,433 hal ini sejalan dengan penguatan S&P 500 sebesar +3.41%. Wall Street ditutup menguat dikarenakan pemerintah AS yang menggelontorkan sejumlah dana sebesar USD 2.3 triliun untuk mengatasi dampak dari Covid-19, selain itu The Fed juga berencana membeli surat berharga obligasi menjadi katalis positif bagi bursa AS jumat kemarin. Di samping itu, pasar komoditi, harga CPO melemah -4.93%, harga Minyak mentah WTI Crude Oil melemah -7.49% dan harga Emas menguat +6.37%.

Untuk itu kata Teddy, pada perdagangan 9 April, IHSG ditutup menguat sebesar +0.48% ke level 4,649 Sentimen penggerak pasar hari ini diantaranya perkembangan pandemi Covid-19 di Indonesia yang masih menjadi perharian investor, karena semakin bertambahnya jumlah korban setiap hari nya, selain itu kebijakan pemerintah Indonesia mengusulkan untuk menambah anggaran belanja negara seebesar Rp 405.1 triliun.

“Selain itu penerbitan tiga surat utang global senilai USD 4.3 miliar dengan tenor 50 tahun, ini merupakan penerbitan US Bond terbesar dalam sejarah Indonesia dengan kerja sama Repo Line antara BI dan The Fed hal ini membawa dampak positif bagi Rupiah dalam jangka pendek ini, BI pun juga sangat aggressive untuk memperkuat intervensi pasar agar tetap stabil,” pungkasnya. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *