Press "Enter" to skip to content

Antara Madinah, Yunnan dan Nusantara

Setidaknya ada dua penulisan untuk satu bangsa, China dan Cina. Entah persisnya karena apa, China tidak disukai dan lebih memilih Cina. Itu posisi orang China. Untuk Indonesia malah ada yang lebih resmi, Tiongkok. Entah mengapa, ini hanya terjadi di Indonesia.

Orang Inggris menyebutnya China (Chaine). Orang Arab, Sin. Orang Jawa, Cino. Trus kok hanya dalam Bahasa Indonesia muncul kepelikan ini? Ada apa sih?

Ternyata — dan ini bukan jawaban atau solusinya — tidak hanya kasus penamaan, naming, saja terjadi kontroversi. Dalam tataran kehidupan nyata, ini juga terjadi. Dan untuk hal ini Indonesia tidak sendiri. Sejumlah negara dunia juga sangat merasakan dan memahami hal ini. Sebut saja negeri jiran terdekat, Malaysia. Bahkan sosok sekaliber Tun Mahathir tidak mampu keluar arena. Malah beliau terdepan meneriakkan “No to China!”

Sejumlah negara lebih dari satu benua beriringan dengan berirama yang satu sepakat meneriakkan penentangan atas Cina. Bukan apa-apa. Justru yang menjadi penyebab utamanya adalah pihak China, dalam hal ini Republik Rakyat China.

Dalam sejarah kita, China merupakan bagian dari lini waktu bangsa Indonesia bahkan jauh sebelum ada Indonesia. Sebut saja penyerangan armada China dipimpin tiga jenderal terpercaya Dinasti Yuan di abad 13 yang pada akhirnya gagal total dengan misinya dan harus pulang dengan malu dan tangan hampa serta sekitar 3.000 nyawa prajuritnya melayang.

Tapi di sisi lain juga ada kisah di ujung spektrum lainnya. Namanya Cheng Ho. Di Barat disebut Zheng He. Sosok Admiral Tinggi Angkatan Laut Kekaisaran China Ming, Cheng Ho bersama armada lautnya singgah di sejumlah tempat di Nusantara. Di tangan Cheng Ho, yang juga mengomandani armada laut yang sulit dicari tandingannya masa itu bahkan pun masa kini – karena banyaknya kapal yang menjadi bagian armada plus ukuran setiap kapal laut yang setidaknya 4 kali lebih besar dari kapal umumnya – kekuatan besar Angkatan Laut Kekaisaran China membawa bukan sabetan pedang tapi tuntunan ilmu dan naungan perdamaian.

Jadi sebagaimana bangsa lain di dunia China sebagai bangsa dunia senantiasa memiliki dua sisi yang berjalan beriringan saling berurutan menyambangi wilayah di luar negerinya. Tinggal saja kita kebetulan mengalami sisi yang mana. Tidak pada tempatnya kita mengetuk palu vonis hanya dari cuplikan sejarah yang subjektif.

China itu manusia. Kita juga manusia. Maka China itu kita, kita itu China.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *