Press "Enter" to skip to content

Brasilia dan Misteri Tongkat Bung Karno

Setelah 197 tahun lamanya Rio de Janeiro menjadi ibukota, Brazil memindahkan pusat pemerintahannya. Dari kota pesisir yang semrawut ke sentrum negara terbesar Amerika Latin, yang saat itu berupa hutan belantara. Brasilia, ibukota baru Brazil, resmi pada tahun 1960. Setahun sebelumnya, ketika pembangunan sedang berlangsung, kisah tentang Indonesia menjadi bagian sejarah Brasilia.

Pada tahun 1959, Presiden Sukarno bertandang ke Brazil, menjumpai kawannya Juscelino Kubitschek, sang Presiden. Suatu ketika mereka terbang menggunakan helikopter diatas Brasilia. Kubitschek mempersilakan Sukarno untuk melemparkan tongkat ke daratan dibawahnya. “Tempat dimana tongkatmu jatuh akan berdiri kedutaan Indonesia,” kata Kubitschek kala itu.

Kisah ini keabsahannya masih bisa didebat. Ada yang bilang ini bumbu penyedap hubungan diplomatik kedua negara. Tak apa. Pesan utamanya adalah bagaimana hubungan internasional Indonesia bisa berjalan begitu efektif – termasuk dengan banyak negara ketiga di kawasan Amerika Selatan – oleh negara yang baru 14 tahun merdeka. Betapa Sukarno menjadi magnet gerakan dunia baru, pada masa itu.

Dengan berbagai masalah sosial yang membelitnya – tingginya pengangguran, pemogokan buruh, tingginya kriminalitas terutama narkoba, penularan Yellow Fever dan Zica yang cukup tinggi di musim panas – Brazil adalah mitra strategis Indonesia satu-satunya di kawasan. Kedua negara saling dukung di kancah internasional, kuat dalam hubungan dagang dan kerjasama militer.

Di tempat ‘jatuhnya tongkat Sukarno’ sekarang berdiri kompleks Kedutaan Besar Republik Indonesia (Embaixada Indonesia) di Brasilia, dengan luas sekitar 2,5 hektar. Disinilah armada diplomasi Indonesia untuk negara Samba bekerja.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *