Press "Enter" to skip to content

Demokrat Dikudeta, Fahri Hamzah: Momentum Evaluasi Total Peran Parpol

JAKARTA – Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah turut menanggapi konflik yang terjadi di Partai Demokrat. Dia melihat bahwa dalam tubuh partai besutan Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY itu, sedang terjadi pertempuran antara “Jenderal Bintang 4 Vs Mayor”, tak lain menggambarkan persaingan Moeldoko vs Agus Harimurti Yudhoyono memperebutkan Partai Demokrat.

“Kasus yang terjadi pada Partai Demokrat ini harus menjadi momentum evaluasi total tentang peran partai politik ke depan,” kata Fahri melalui cuitannya di akun Twitter-nya yang dikutip faham.id, Senin (8/3/2021).

Bahkan dengan nada menyindir, mantan Wakil Ketua DPR RI Periode 2014-2019 itu mengatakan kalau kezaliman itu punya banyak wajah. Tapi semuanya diternak oleh feodalisme yang kemudian merampas hak rakyat untuk mengajukan pertanyaan.

“Mereka mengatur semua yang mereka mau. Tanpa malu. Parpol semakin sibuk dengan dirinya sendiri dan dalam situasi konflik menyeret organisasi negara, sementara negara juga sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu rakyat kemudian bertanya, “Kami diurus siapa?” katanya.

Sebagaimana diketahui konflik di dalam tubuh Partai Demokrat terjadi antara kubu Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY dan Ketua Umum hasil KLB Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara, Moeldoko. Apalagi Moeldoko hingga saat ini masih menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

Kisah ‘kudeta’ Partai Demokrat uniknya, dilakukan oleh ‘orang luar’ yakni Moeldoko yang tercatat bukan kader Partai Demokrat.

Melanjutkan cuitannya, Fahri mencontohkan bagaimana kisah dirinya keluar dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan membandingkannya dengan konflik Partai Demokrat yang baru saja terjadi.

“PKS, AD/ART diubah sepihak supaya saya mudah dipecat. Partai Demokrat, AD/ART diubah supaya seorang mudah jadi ketum,” sebut salah saltu pentolan Partai Gelora Indonesia ini.

Beda kasus antara PKS dan Partai Demokrat adalah setelah ‘gerbong’ Fahri Hamzah keluar, ia mendirikan Partai Gelora Indonesia. Fahri bersama Anis Matta dan Mahfuz Sidik menjadi nahkoda partai baru tersebut yang dideklarasikan 28 Oktober 2019 lalu.

“Setelah dipecat, saya menempuh jalur hukum. Saya percaya kezaliman takkan bertahan lama. Sepandai-pandai memainkan kekuasaan suatu saat akan tumbang juga!” tutup Fahri Hamzah.

Untuk diketahui, Partai Gelora Indonesia berdiri dengan ikhtiar sendiri, mengumpulkan sumber daya satu per satu. Puluhan ribu pengurus awal, ribuan ranting di tingkat Desa, ribuan cabang Kecamatan, ratusan Kabupaten/Kota, puluhan wilayah, hingga mendapat pengesahan dan siap ikut Pemilu 2024. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *