Press "Enter" to skip to content

Donald Trump Dimakzulkan DPR AS, Fahri Hamzah: Semoga Jadi Pelajaran Dimanapun

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dimakzulkan, setelah mayoritas anggota DPR AS menyetujui dua pasal pemakzulan terhadap Donald Trump lewat voting yang digelar oleh DPR AS di Gedung Capitol, Washington DC pada Rabu (18/12/2019) waktu setempat. Dua dakwaan pemakzulan yang dijeratkan terhadap Trump, yakni penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi Kongres AS.

Dalam konferensi pers pasca-pemungutan suara, Ketua Komite Yudisial Jerry Nadler mengatakan, Trump memang layak dimakzulkan. Ia menjelaskan, presiden ke-45 AS tersebut secara nyata sudah menampilkan bahaya nyata bagi sistem pemilihan dan pembagian kekuasaan di AS. “Seorang Presiden AS tidak diperkenankan untuk menjadi diktator,” ucap Nadler dalam keterangannya sebagaimana diberitakan BBC.

Terkait pemakzulan terhadap Donald Trump, mantan Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019, Fahri Hamzah lewat akun twitter-nya @FahriHamzah, Jumat (20/12/2019) mengingatkan pesan dari investigasi dan rencana impeachment presiden AS itu adalah tidak ada orang yang boleh berada di atas hukum, meski ia presiden dari negara terkuat di dunia sekali pun.

“Pelajaran bagi siapapun yang suka mengangkangi hukum untuk agenda politiknya. Waspadalah! Donald Trump adalah tipe presiden berlatar non politik. Bahkan dalam debat dan konvensi Pilpres Amerika yang lalu,
Trump bahkan menyerang para politisi dan mengolok-olok bahwa, “semua politisi pernah terima sumbangan dari saya”, katanya dengan nada sinis,” sebut Fahri mengutip sindiran Donald Trump itu.

Memang, diakui Wakil Keua Umum DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia itu, saat politisi mendapatkan nama dan citra buruk, mereka yang berlatar non politik termasuk pengusaha menjadi alternatif. Padahal pengusaha punya masalah, mereka sering tak paham politik dan hukum negara.

“Mereka (pengusaha), eksekutor di wilayah privat tapi tidak di wilayah publik. Begitulah kisah seorang pengusaha besar, terkenal dan flamboyan di Amerika Serikat bernama Donald Trump ini. Begitu dilantik menjadi presiden dari negara dengan kekuatan ekonomi dan militer terkuat di dunia langsung mencipta kehebohan yang tidak biasa siang malam,” tuturnya.

Bahkan, sebut Fahri, penasehat hukum Gedung Putih tak berfungsi atau terpental seperti terpentalnya semua pos kementrian strategis, tanpa terkecuali Menteri Luar Negeri seperti Rex Tillerson dan konco lawas sang disainer kemenangan Trump, Steve Bannon.

“Semua diterobos dan Trump nampak sukses. Hal yang sulit bagi pengkritik Donald Trump adalah karena ekonomi Amerika menunjukkan indikator terbaik bahkan sepanjang sejarah Amerika Serikat. Pengangguran menipis, pendapatan dan pemerataan membaik serta industri yang benar-benar ‘Make America Great Again’,” kata dia.

“Semua orang tau, Donald Trump memang pengusaha sukses, jago nego, jago eksekusi dan raja tega. Semua itu sukses ia terapkan itu dalam politik ekonomi dunia. Tapi negara bukanlah sebuah PT, negara bukan privat. Sukses tidak dihitung dari seberapa besar capaian fisik.”

Menurut Fahri, negara adalah imajinasi kolektif masyarakat. Kata Bung Karno, ia tidak saja merupakan satu kesatuan geografis tapi kesatuan cita-cita dan mimpin tentang apa yang dianggap ideal, satu kesatuan harapan. Maka, sukses ekonomi Donald Trump tak menghalangi pemakzulan tahap I.

Setelah para saksi diperiksa, dan setelah alat bukti dikumpulkan maka DPR AS secara sah dan meyakinkan menemukan bahwa presiden telah melakukan serangkaian perbuatan melawan hukum di dalam dan di luar negara. Voting di tingkat DPR yang didominasi oleh Demokrat telah sah.

Namun, Fahri memprediksi bahwa ada kemungkinan voting di tingkat senat Amerika akan menolak pemakzulan ini, mengingat Partai Republik yang merupakan penyokong Trump mendominasi kursi senat. Tapi, cacat nama bagi Donald Trump telah terjadi, karena serangkaian pelanggaran hukum telah terungkap.

“Paling tidak, kalaupun Donald Trump tidak jatuh, sulit baginya untuk ikut dalam pemilu tahun depan. Bahkan kemungkinan ia gagal mendapatkan nominasi apabila Partai Republik melihat lawan utama dia adalah politisi sekelas Joe Biden atau Bernie Sanders. Harus ada calon baru,” ucapnya.

Sekali lagi, lanjut inisiator Gerakan Arah Baru Indonesia (GABRI) itu, sistem politik dan ketatanegaraan Amerika Serikat menunjukkan kehebatannya. Bahwa presiden, sekuat dan sehebat apapun tidak boleh melampaui hukum. Sehingga dibuktikan secara telanjang oleh kongres (kamar DPR) bahwa ia telah melanggar dan kayak dijatuhkan.

“Ini untuk ke-3 kalinya kongres Amerika menjatuhkan presiden di sebelah kamarnya. Meski tak ada yang betul-betul jatuh sebelumnya (Andrew Johnson dan Bill Clinton), tapi ini memberi pelajaran kuat dalam tradisi ketatanegaraan Amerika Serikat bahwa tidak ada yang boleh melanggar hukum. Semoga menjadi pelajaran di manapun agar presiden di manapun tetap berhati-hati. Dan legislatif di manapun berani melakukan pengawasan atas kemungkinan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh top eksekutif. Selamat meneruskan tontonan drama pemakzulan ini!” tutup Fahri Hamzah. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *