Press "Enter" to skip to content

Dua Provinsi di Cina Penyalur Perempuan Pengantin Pesanan Asal RI

BEIJING – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibukota China, Beijing, memantau dua provinsi yang menjadi tempat agen-agen penyalur perempuan pengantin pesanan asal Indonesia.

Fungsi Protokoler dan Kekonsuleran KBRI Beijing, Ichsan Firdaus menjelaskan KBRI di ibu kota China, Beijing, memantau dua provinsi yang menjadi tempat agen-agen penyalur pengantin pesanan asal Indonesia. Kedua provinsi tersebut adalah Henan dan Hebei.

“Di China itu ada yang kita catat, di Provinsi Henan dan Provinsi Hebei. Itu memang karena jumlah populasi (pria) memang banyak di sana (Henan dan Hebei). Jadi memang mereka mencari pengantin (perempuan) untuk menikah,” papar Ichsan seperti dilansir Voice Of America.

Tapi dia mengingatkan memang butuh pendekatan terus menerus agar pihak berwenang di China mau memahami.

Setelah pendekatan terus menerus dengan pihak berwenang di Provinsi Hebei, sekarang kalau warga Indonesia ingin memperpanjang visa tinggal, disuruh ke KBRI Beijing. Atau kalau ada yang mau menikah baru, juga disuruh ke KBRI.

Meski begitu, persoalan pengantin pesanan ini belum rampung. Apalagi fenomena pengantin pesanan China terindikasi perdagangan orang sudah berkembang menjadi bisnis yang melibatkan aktor intelektual dan agen-agen penyalur/perekrut. Transaksi dinikmati para perekrut senilai Rp 300 juta-400 juta.

Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia Dian Kartikasari mengatakan pengantin pesanan merupakan bentuk perdagangan manusia yang seharusnya bisa dicegah pemerintah Indonesia sejak awal. Sebab, faktanya banyak pengantin pesanan di China tereksploitasi, mengalami kekerasan, dan sebagian besar tidak bisa pulang ke Indonesia.

Dian menyatakan, satuan tugas pemberantasan perdagangan orang harus aktif dalam pencegahan agar tidak makin banyak perempuan Indonesia menjadi korban pengantin pesanan. Dia meminta Kementerian Luar Negeri harus aktif membahas langkah-langkah pencegahan dan penindakan kasus-kasus pengantin pesanan dengan negara-negara yang warganya terlibat. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *