Press "Enter" to skip to content

Fahri Ajak Masyarakat Jaga Tiga Keseimbangan Agar Tetap Bahagia Saat Pandemi Covid-19

JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mengajak semua pihak untuk menjaga keseimbangan kesehatan fisik, pikiran dan jiwanya agar tetap bahagia dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini. 

“Karena orang yang tidak punya kebahagian tidak akan bisa menyebarkan optimisme. Bagaimana dia bisa mengajak orang bahagia, sementara dia sendiri tidak bahagia,” kata Fahri dalam keterangannya, Sabtu (10/4/2021). 

Hal itu disampaikan Fahri saat menjadi keynote speaker acara Ngrumpi #6  dengan tema ‘Perempuan Bahagia Itu Sehat’ yang diselenggarakan Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Indonesia, Jumat (9/4/2021). 

Menurut Fahri, kebahagiaan itu sangat penting bagi umat manusia baik itu, laki-laki dan perempuan. Masalah kebahagiaan juga diatur dalam tradisi bernegara, konstitusi dan agama. 

“Kebahagiaan itu tema penting, tapi jarang dianggap penting. Saya sering mengajukan tema ini, apalagi kalau soal agama, karena memotivasi orang untuk bahagia itu jauh lebih kena. Kebahagiaan itu dicari sendiri, bukan dari orang lain sehingga menjadi lifestyle to habit,” katanya. 

Karena itu, Fahri berharap Bidang Perempuan Partai Gelora Indonesia bisa menelurkan semboyan ‘Happines Is My Habit (kebahagiaan itu kebiasaan saya) 

“Happines is my is habit, bahagia itu kebiasaanku, every minute,  every time, happiness.  So happiness itu harus menjadi kebahagiaan dan jadi rutinitas kebiasaan,” kata Fahri. 

Di beberapa negara seperti Uni Emirat Arab (UEA) misalnya, lanjut Fahri, kebahagiaan itu bahkan menjadi departemen sendiri dan dipimpin oleh seorang perempuan.  

“Topik kebahagiaan ini harus diperdalam dan kita mengeksplor kebiasaan orang bisa bahagia, daripada mengeksplor kebiasaan bersedih. Sekarang ini tangis sedihnya lebih banyak daripada tangis bahagia, padahal kita harus memperbanyak tangis bahagia, bukan tangis sedih,” ujar Fahri. 

Fahri kemudian mencontohkan soal kelahiran Partai Gelora seperti dinantikan oleh kedua orang tuanya, orang yang melihat dengan tangis kebahagiaan, bukan kesedihan.  

“Kita harus mentradisikan tangis kebahagiaan itu, karena bisa  memperbesar volume rongga dada kita, sehingga kita bisa menghadapi tantangan masa depan,” kata mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini. 

Fahri menegaskan, dalam latihan keseimbangan, kita sering mendapatkan motivasi untuk mencari kebahagiaan. Dimulai dari latihan menjaga kesehatan fisik, pikiran dan jiwa. 

“Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan, mau nggak mau kita stop makan dan memperbanyak ibadah pada malam hari. Jadi ada semacam overhaul dari kesehatan fisik menuju keseimbangan. Fisiknya terkoreksi, dan ahli kesehatan tidak ada yang menyatakan tidak puas,” katanya. 

Sementara kesehatan pikiran harus diperbanyak dengan membaca buku, sehingga bisa berpikiran sehat dan memiliki nalar dalam mencerna pembicaraan di ruang publik. 

“Kalau kesehatan jiwa harus sering bertanya, bercermin dan evaluasi setiap saat untuk menjadi lebih baik dan bisa menjadi energi buat kita, dan berani berbicara,” katanya. 

Tiga keseimbangan fisik, pikiran dan jiwa ini, kata Fahri, akan melahirkan kebahagiaan. Ia berharap tema-tema seperti ini harus menjadi bahan diskusi dalam situasi pandemi Covid-19, sehingga orang bisa menemukan kebahagiaan, bukan kesedihan.  

“Kita perlu sharing-sharing dalam acara Rumpi seperti ini karena sharing happiness menarik orang-orang. Sehingga rumpi yang dulu konotasi negatif, jadi positif. Jadi ruang untuk menemukan kebahagiaan, mendengar hal-hal bahagia. Saya suka rumpi ini, bukan rumpi yang lain,” kata tandas Fahri. 

Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Indonesia Ratih Sanggarwati mengatakan, Ngrumpi #6 dengan tema ‘Perempuan Bahagia Itu Sehat’ semakin menegaskan, bahwa perempuan bahagia itu sehat. 

Ahli kesehatan perempuan lulusan Harvard University, dr Roy Panunsunan Sibarani mengatakan, kebahagian itu terbentuk dari diri sendiri yang berasal dari pikiran positif, bukan negatif. 

“Saya punya pasien usianya 78 tahun yang selalu dihantui kekuatiran kesehatannya karena memiliki penyakit diabetes dan hipertensi. Pasien saya takut mati kena Covid-19 seperti temennya yang berusia 93 tahun,” kata Roy. 

Ia kemudian menasehati pasien agar tidak perlu takut, dan terus menumbuhkan kebahagian. Sakit dan ketakutan itu bisa timbul karena pikiran-pikiran negatif.  

“Kalau kita bilang sakit ya akan menjadi sakit, jadi sangat berpengaruh pada bentukkan pikirannya kita sendiri. Saya bilang jangan main-main dengan fikiran, karena pikiran ini selalu menghantui ibu,” kata Roy menasihati pasiennya.  

Roy mengingatkan agar setiap orang tidak mempersepsikan pikiran negatif atau jelek saja, melainkan harus selalu optimis dalam setiap mengerjakan sesuatu.  

“Kehidupan kita kalau selalu diliputi rasa cemas, tentu tidak akan bahagia. Kalau sudah begitu, hidup sudah tidak ada gunanya. Jadi saya setuju perempuan bahagia itu sehat, bisa juga perempuan sehat itu bahagia. Perempuan itu tangguh sekali saat pandemi Covid-19 saat ini,” pungkas Roy. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *