Press "Enter" to skip to content

Fahri Hamzah ke Firli Cs, Ganti Semua Penyidik KPK yang Bekerja Pakai Otot

JAKARTA – Mantan Wakil Ketua DPR RI Periode 2014-2019, Fahri Hamzah menaruh harapan besar pemberantasn korupsi dipundak para Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Dewan Pengawas (Dewas) KPK yang sudah dilantik Presiden Jokowi pada Jumat sore (20/12/2019) di Istana Negara, Jakarta. Harapan Fahri adalah agar KPK dibawah pimpinan Firli Bahuri mampu menjabarkan road map atau peta jalan “Visi Indonesia Bersih dari Korupsi” ke depan.

“Jadi kita tau mau kemana, berapa jauh, pakai apa, berapa biayanya dan kapan tiba. Kita juga bisa antisipasi semua kendala dan masalah jika terencana,” sebut Fahri yang kini menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia itu dalam pesan singkat yang diterima wartawan, Senin (23/12/2019) .

Fahri mengatakan, problem pemberantasan korupsi selama ini adalah tidak ada peta jalan menuju Visi Indonesia Bersih, sehingga sebetulnya tidak jelas mau kemana, pakai apa, berapa lama, berapa biayanya dan lain-lain. Bahkan, para komioner antirasuah periode lalu, ditengah jalan sibuk sendiri tanpa hasil yang jelas dan menganggap korupsi seperti berburu.

“Padahal, korupsi adalah kejahatan akal yang sistemik dalam negara. Korupsi itu bukan maling jemuran atau begal, tetapi kejahatan kerah putih karena pelakonnya orang-orang ‘berdasi’. Maka tanpa pendekatan sistemik, yang ada hanya keributan menangkap pemain kelas teri seperti selama ini,” sindirnya.

Karena itu, menurut Fahri, seluruh Pimpinan KPK baru dan seluruh dewan pengawasnya, hanya mungkin sukses dengan sebuah orkestra sistemik.

“Jika tidak, sebaiknya Firli Cs tinggalkan itu gedung KPK, sebab mereka akan jadi musuh bersama,” tegas Fahri yang kerap mengkritisi kinerja lambaga antirasuah itu.

Apalagi, sambung inisiator Ormas Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu, semua berharap KPK RI baru akan beralih dari ‘intip’ yang sudah semakin sulit kepada ‘audit’, yang kapabilitasnya sudah terpasang dalam lembaga negara lainnya seperti BPK dan BPKP.

“Elliot Ness tidak bisa menangkap Al Capone pakai senjata, tapi audit pajak. Karena itu Pimpinan KPK yang baru harus mengganti semua penyidik yang selama ini bekerja pakai otot dengan mereka yang pakai otak. Tentunya cari penyidik yang otaknya kuat, jago membaca laporan keuangan dan pajak. Jago kolaborasi dengan BPK dan lembaga yang mengelola pendapatan negara. Kenapa? Sebab Visi Indonesia Bersih itu kerja sistemik,” pungkas Fahri Hamzah. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *