Press "Enter" to skip to content

Fahri Hamzah Tegaskan, Demokrasi Tidak Melarang Siapa pun Maju dalam Kontestasi Pilkada

MEDAN– Politik identitas dan dinasti politik menjadi mainan segelintir oknum untuk menjegal elektabilitas calon Wali Kota Medan, Bobby Nasution yang kian memuncak. Isu itu sengaja diciptakan untuk memecah belah masyarakat menjelang Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Medan.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora, Fahri Hamzah dalam diskusi bersama Ketua Umum DPN Partai Gelura Anis Matta dan Bobby Nasution di Studio Kolabirasi Medan Berkah, Kamis malam (19/11/2020) menyebutkan, isu politik dinasti itu sengaja dihembuskan rival Bobby Nasution.

“Kita ada di dalam negara yang berdemokrasi. Dalam demokrasi itu memberikan ruang untuk semua orang terlibat. Demokrasi menghapus tuduhan bahwa dinasti itu masih ada. Dalam demokrasi semua punya peluang. Ada wali kota, anaknya bagus maka didukung dan seterusnya,” sebut dia.

Fahri menambahkan, dalam proses demokrasi tidak bisa melarang siapa pun maju dalam kontestasi pilkada. Selain tidak ada hukum yang dilanggar, Undang-Undang (UU) juga mengatur di dalamnya. Sebaliknya, kehadiran Bobby-Aulia dalam Pilkwalkot Medan, akan menguntungkan masyarakat.

“Keuntungan yang bakal diperoleh masyarakat di Medan karena Mas Bobby memiliki hubungan kedekatan dan bisa berkolaborasi dengan pemerintah pusat. Ini merupakan nilai plus dari pasangan Bobby-Aulia, yang mungkin tidak dimiliki pasangan calon lain dalam pilkada serentak di Indonesia,” ungkapnya.

Menurut mantan Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 ini, kolaborasi daerah dengan pusat itu menjadi salah satu faktor penenti kemajuan pembangunan. Pemerintah kota itu jika main sendiri maka tidak akan sanggup memajukan daerah, sehingga perlu bantuan dari pusat.

“Jika malah berantem sama pusat, efeknya infrastruktur Medan berantakan,” ungkap Fahri Hamzah.

Bagi kubu tertentu yang anti-pemerintah pusat, Fahri Hamzah justru pesimistis tidak mampu membenahi Kota Medan.

“Itu yang antipusat kalau pun menang bakal susah karena tak harmonis,” katanya seraya meminta provokasi anti-pemerintahan pusat di Piwalkot Medan, sebaiknya tidak usah ditanggapi.

Masyarakat, menurut Fahri, harus fokus untuk memenangkan pasangan Bobby Nasution dan Aulia Rachman. Dengan demikian, Kota Medan cepat dibenahi, dan mengejar ketertinggalan.

“Ini negara kesatuan bukan negara federal. Negara kesatuan itu pemerintahan pusat membentuk pemerintah daerah lewat UU. Kita harus bina hubungan baik dengan pemerintah pusat, gak bisa pemda buruk hubungan dengan pusat. Ini pilkada dibenturkan ke pusat, menang pun susah itu nanti. Masyarakat Medan jangan mau terprovokasi,” pungkas Fahri. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *