Press "Enter" to skip to content

Irman Gusman: Negara ini Terlalu Banyak Pemimpin, Tapi Sedikit Kepemimpinan

JAKARTA – Mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Irman Gusman mengatakan, pandangan dan pilihan politik boleh saja berbeda, tetapi persahabatan itu abadi sifatnya. Inilah yang diteladankan oleh Natsir dan Bung Karno, meski selalu beberangan tetapi tetap bersahabat.

“Soekarno sebagai seorang ideolog dan pemikir politik berpandangan bahwa agama harus dipisahkan dari urusan negara. Bung Karno mengkhawatirkan kalau membawa-bawa agama maka bangsa ini akan bercerai-berai,” kata Irman Gusman yang hadir secara virtual pada acara bedah buku “Islam Sebagai Dasar Negara: Polemik Antara Mohammad Natsir Versus Soekarno” dan “68 Tahun Melukis di Atas Awan, Memoar Biografi Dr. Shofwan Karim,” Jumat (18/12/2020).

Sementara Natsir, lanjut dia, sebagai seorang ideolog reformis muslim dan arsitek “negara Islam moderat” berpandangan bahwa Islam sebagai agama peradaban yang membimbing manusia memasuki alam modern harus disatukan dengan negara. Untuk mencapai kemerdekaan, tidak cukup hanya dengan nasionalisme karena dorongan agama Islam, jauh lebih kuat.

“Mereka berseberangan secara tajam. Meski demikian ketika Soekarno ditangkap, diadili, dan dipenjarakan di Sukamiskin, yang pertama menjenguk bukan orang-orang PNI pendukung Bung Karno, melainkan kelompok Natsir. Ini pelajaran keteladanan yang sangat berharga buat bangsa kita agar bisa berpolitik dengan hati secara matang dan bijaksana,” kata Irman.

Berbeda dengan kondisi sekarang, yang menurut dia, terlalu banyak pemimpin tapi terlalu sedikit kepemimpinan. Terlalu banyak politisi, tapi terlalu sedikit negarawan. Terlalu banyak idola, tapi terlalu sedikit keteladanan. Terlalu banyak pembawa masalah, tapi terlalu sedikit pembawa solusi. Terlalu banyak menggunakan otak dan otot, tapi terlalu sedikit bahkan sangat jarang menggunakan hati.

“Akibatnya kita seperti hidup di bawah SUTET (Saluran Udara Tagangan Ekstra Tinggi). Semua orang tegang. Saling curiga dan berprasangka buruk. Saling hujat dan caci-maki. Berbeda pendapat dianggap sebagai permusuhan dan peperangan,” kata Irman.

Kenapa bisa terjadi begini? Karena menurut Irman, bangsa ini tidak belajar dari sejarah dan menengok ke belakang. Seperti sikap Natsir dan Soekarno yang berseberangan secara pemikiran dan sikap politik, tetapi terdapat kesamaan keyakinan di antara mereka dalam hal demokrasi.

“Dari polemik dua tokoh bangsa ini kita dapat memetik pelajaran, meski mereka berdebat tentang hubungan agama dan negara dan tentang dasar negara kita, mereka akhirnya bersepakat untuk tidak menghapus Pancasila sebagai dasar negara,” tambahnya.

Oleh karena itu, Irman beroendapat bahwa apa yang diperjuangkan Natsir masih relevan sampai hari ini, dimana sekularisme yang semakin kental mengancam dan mengikis keberagamaan, khususnya di kalangan generasi muda. Dalam hal ini perjuangan Natsir untuk memanifestasikan nilai-nilai ajaran Islam itu perlu kita lanjutkan, sama seperti melanjutkan perjuangan Soekarno dalam melestarikan Pancasila.

Catatan lain disampaikan Irman tentang perjuangan Natsir adalah bahwa keberagamaan perlu tampak dalam realitas sehari-hari, bukan sekadar identitas belaka. Bahkan dalam mengamalkan Pancasila, misalnya sila Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keadilan Sosial bisa diterjemahkan ke dalam realitas kehidupan sehari-hari.

“Kalau saya mencoba merekonsiliasikan pemikiran Natsir dan Soekarno adalah dua kutub yang bertolak belakang itu, maka yang mau saya katakan adalah kita harus bisa berpancasila sereligius mungkin dan beragama sepancasilais mungkin.
Artinya mengamalkan agama di negara yang berdasarkan Pancasila dan mengamalkan Pancasila di negara yang penduduknya menjunjung tinggi ajaran agama,” kata Irman.

Jadi, lanjut Irman bukan mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara, atau memperjuangkan Islam sebagai dasar negara karena itu sudah final. Sebab Pancasila sudah mewakili nilai-nilai luhur dari semua agama di negeri ini bahkan mewakili jatidiri bangsa Indonesia.

“Tugas kita adalah melakukan introspeksi, sudah sampai sejauh mana kita mengamalkan lima sila itu di dalam realitas kehidupan kita sebagai bangsa, kemudian melakukan koreksi dengan menggunakan ajaran agama dan falsafah Pancasila sebagai pedoman,” tutup Irman Gusman. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *