Press "Enter" to skip to content

Jalur Sutra Maritim, China, Islam dan Perdamaian Dunia

China adalah satu dari segelintir peradaban besar manusia yang masih eksis hingga kini dengan segala jatuh bangunnya. Dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi setidaknya dari segi materi. Lihat saja Tembok Raksasa, Kota Terlarang (arsitektur), mesiu, kertas, jam air (teknologi), dst., di era moderen ini China kembali menunjukkan kedigdayaannya khususnya memasuki abad 21 ini.

Banyak sosok terkenal dalam sejarah baik khususnya di era klasik yang berasal dari China, bahkan yang beragama Islam. Salah satunya adalah sosok yang mendunia bahkan di masanya, Laksamana Cheng Ho.

Laksamana Cheng Ho atau Zheng He adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Cina klasik yang merupakan seorang Muslim. Misi armada diplomasinya selain bermuatan dagang juga membawa misi perdamaian di wilayah yang ia lalui. Jalur armadanya ini kelak dikenal sebagai Jalur Sutra Laut.

Yang harus digarisbawahi terkait jalur sutera laut ini adalah bahwa misi perdamaian merupakan inti utama armada Cheng Ho yang terbukti bahwa setiap armadanya singgah di suatu tempat, selalu ada catatan baik tentangnya. Masjid Cheng Ho di Surabaya misalnya. Masjid ini menjadi bukti kunjungan bersahabat Cheng Ho dan armada raksasanya. Penduduk mendirikan masjid ini utk mengenang jasa beliau.

Laksamana Cheng Ho hidup di masa Dinasti Ming, sekitar abad 14 M. Pada masa ini banyak pejabat penting kekaisaran adalah sosok Muslim. Meskipun demikian, sejarah mencatat bahwa pada era Dinasti Yuan lah sejauh ini dianggap sebagai masa keemasan Islam di Cina.

Kota Guangzhou (baca: kuangco), kota pelabuhan dan perdagangan tua Cina berusia 2000 th yg masih eksis dan kini merupakan salah satu kota meteopolitan di Cina, merupakan salah satu kota Cina yang masih menunjukkan peninggalan Islam baik dari bangunan bersejarah maupun sejumlah tradisi yg hingga kini masih bertahan.

Kota ini juga menjadi salah satu hub penting dan utama dalam era jalur sutra laut masa itu. Bangsa-bangsa yang singgah menunjukkan keragaman yang dinamis yang juga mempengaruhi perikehidupan Guangzhou dan menjadikannya sebagai kota pelabuhan dan dagang internasional.

Para pedagang Muslim dari tanah Arab termasuk Persia merupakan sebagian dari aneka ragam bangsa yang singgah di Guangzhou bahkan pendahulu mereka sudah singgah sebelum mereka memeluk Islam.

Pada masanya, hanya penduduk yang muslim saja yang dipercaya memegang jabatan penting khususnya di wilayah pelabuhan baik yang berhubungan dengan pabean maupun peradilan karena muslim dikenal dari amanahnya dan ketegasannya dalam menjalankan aturan.

Salah satu landmark Guangzhou adalah menara Masjid Huaisheng yang dikenal juga dengan Masjid Mercusuar. Dulu menara setinggi 36 M ini menjadi titik tertinggi yang berguna untuk melihat kondisi lingkungan khususnya arah angin yang berguna bagi pelayaran.

Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Saad bin Abi Waqqash, sosok shahabat agung yang juga adalah paman Nabi dari pihak ibu. Konon di lokasi masjid ini lah Shahabat Saad memusatkan dakwahnya. Konon dibangun tahun 625 M. Maka masjid ini termasuk masjid tertua di dunia yang masih wujud, tidak hanya di China.

Masjid lainnya yang nyaris sama tuanya adalah Masjid Xianxian atau Masjid Abu Waqqash. Dinamakan demikian karena tidak jauh dari masjid ini terdapat makam 40 shahabat yang diutus berdakwah ke China. Salah satunya konon adalah makam Saad bin Malik, nama lain Saad bin Abi Waqqash. Konon masjis ini dibangun tahun 627. Masjid ini lebih dikenal dari Masjid Mercusuar karena banyaknya muslim dari manca negara yang datang berziarah. Khususnya dari benua Afrika dan Asia.

Dua ilustrasi di atas Cheng Ho dan Guangzhou, menunjukkan bahwa Islam di China sesungguhnya membawa misi damai dalam segala sisinya. Pada lini waktu kontemporer pun sebenarnya Islam masih dapat berperan penting bagi inisiatif sabuk dan jalan (belt and road initiative) pemerintah Cina, tidak hanya menjadikan ISJ/BRI melulu tentang perdagangan — yang artinya sama saja dengan menafikan peran jalur sutra di masa lampau — tapi juga tentang perdamaian.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *