Press "Enter" to skip to content

Jangan Buta Sejarah, Silahkan Baca dan Pelajari !

Oleh: Teddy Mihelde Yamin (Analis dan Direktur Eksekutif Cikini Studi)

Teddy Mihelde Yamin.

NAMAKU Teddy Mihelde Yamin, bukan sembarang comot ya ! Yamin itu nama pahlawan nasional dari Minangkabau – Sumatera Barat, Mohammad Yamin. Sengaja dan berniat khusus Atokku memberi nama itu.

Silakan cari nama ‘Yamin’ di Republik ini, pasti orang Minang atau keluarganya pengagum perjuangan pahlawan nasional yang juga penulis dan pelopor Sumpah Pemuda sekaligus imaji ‘pencipta imaji ke-Indonesia-an’ yang mempengaruhi sejarah persatuan Indonesia. Walau kini di Jakarta, ada makanan Mie Yamin, namanya. Mie ayam berkecap yang juga tak kalah enak itu.

Selain Mohammad Yamin, ada ratusan bahkan ribuan orang Minang yang berjuang untuk tegaknya Kemerdekaan Republik Indonesia. Termasuk Mohammad Hatta, Wapres pertama RI. Tidak sembarang nama yang kusandang. Sejak dahulu hingga kini, Sumatera Barat bukanlah daerah sembarangan yang berpangku tangan, apalagi tak mendukung pemerintahan dan Pancasila.

Kita juga tahu Mohammad Yamin ini adalah salah satu tokoh penting pertama disamping Presiden Soekarno dan yang mencetuskan Pancasila. Beliau adalah seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum.

Nah, dalam perumusan Pancasila, beliau memberikan lima hal untuk bisa dijadikan dasar negara. Ketika berpidato, lima dasar yang diberikannya adalah peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Namun saat memberikan usulannya dalam bentuk tertulis, gagasan ini berubah, teman-teman. Usulan itu berubah menjadi Ketuhanan yang Maha Esa, Kebangsaan Persatuan Indonesia, Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jadi, Minangkabau dengan sejarah perjuangan kemerdekaan hingga mempertahankan RI ini tidak bisa dilepaskan peran tokoh-tokoh asal Minang di pusaran NKRI.

  1. Soekarno (Proklamator), menantu orang Minang (Bu Fatmawati adalah istri Soekarno yang memiliki darah bangsawan Kerajaan Indrapura – Pessel)
  2. Tan Malaka, tiga tahun sebelum Sumpah Pemuda sudah menulis buku “Naar de Republiek Indonesia” yang menjadi inspirasi Soekarno dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
  3. M. Yamin, salah satu pengusul dalam rapat BPUPKI soal dasar negara pada tahun 1945.
  4. Hatta, Proklamator sekaligus penyusun konsep ekonomi kerakyatan Indonesia.
  5. Agus Salim, yang bertarung secara diplomatik dalam usaha pengakuan dunia internasional atas kemerdekaan Indonesia.
  6. Sjahrir, bertarung di meja perundingan saat Belanda dan sekutunya masih ingin mencengkramkan kukunya di Indonesia lewat agresi-agresinya.
  7. M Natsir, mengembalikan NKRI lewat Mosi Integral-nya selepas Indonesia terpecah belah dalam negara boneka RIS selepas Perjanjian Linggarjati…

Makanya Prof. Syafi’i Ma’arif pernah bilang, “Apabila NKRI hancur lebur dan semua daerah-daerah memisahkan diri, maka Sumatera Barat-lah (baca Minangkabau) yang tersisa”…

Lalu, Buya Mas’oed Abidin mengatakan, perjuangan yang dilakukan oleh orang Minang untuk Republik Indonesia adalah perjuangan tulus…

Jadi, jika ada politikus yang ujarannya tendensius ke rakyat Minang, bisa jadi politikus tersebut buta sejarah. Dukung tak mendukung partai penguasa atau kader partainya bukankah itu urusan lain? Jangan seenaknya meng-klaim Pancasila seolah milik partainya seorang. Karena itu silahkan baca dan belajar lebih banyak. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *