Press "Enter" to skip to content

Keluarga Besar Partai Gelora Berduka, Ibunda Tercinta Ketua Umum Tutup Usia

JAKARTA – Keluarga besar Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia tengah berduka atas meninggalnya ibunda tercinta Ketua Umum Partai DPN Gelora Indonesia, Anis Matta, Hj Nandong binti Attas pada Selasa (9/2/2021) dalam usia 81 Tahun di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.Telah meninggal dunia Hj Nandong Attas, Ibunda tercinta dari Bapak Anis Matta. Pada hari Selasa tanggal 9 februari 2021 lebih kurang pukul 06.19 di RSPAD, Jakarta Pusat,” kata Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia , Selasa (9/2/2021).

Menurut Mahfuz, alhmarhumah Hj. Nandong binti Attas dimakamkan di Pemakaman Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur selepas dzuhur.

“Sesuai arahan pihak keluarga almarhumah, dengan mempertimbangkan situasi PPKM yang berlaku di Jakarta, maka kegiatan ta’ziyah ditiadakan dan diganti dengan sholat ghaib untuk almarhumah dari tempat masing-masing,” kata Mahfuz

Pihak keluarga, kata Mahfuz, menyampaikan permohonan maaf jika ada salah dan khilaf dari almarhum. “Mohon doa dan keikhlasannya,” pinta Sekjen Partai Gelora Indonesia ini.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta memberikan pesan menyentuh hati lewat sebuah puisi mengenai makna seorang ibu. Puisi indah tersebut merupakan ungkapan hati Anis Matta untuk ibunda tercinta Hj. Nandong binti Attas, yang wafat dalam usia 81 tahun pada Selasa (9/2/2021)

Berikut petikan pusinya:

Tidak ada budi yang dapat membalas cinta seorang ibu. Apalagi mengimbanginya. Sebab cinta ibu mengalir dari darah dan ruh.

Anak adalah buah cinta dua hati. Tapi ia tidak dititip dalam dua rahim. Ia dititip dalam rahim sang ibu selama sembilan bulan: disana sang hidup bergeliat dalam sunyi sembari menyedot saripati sang ibu. Ia lalu keluar diantara darah: inilah ruh baru yang dititip dari ruh yang lain.

Itu sebabnya cinta ibu merupakan cinta misi. Tapi dengan ciri lain yang membedakannya dari jenis cinta misi lainnya, darah! Ya, darah! Anak adalah metamorfosis dari darah dan daging sang ibu, yang lahir dari sebuah kesepakatan.

Cinta ini adalah campuran darah dan ruh. Ketika seorang ibu menatap anaknya yang sedang tertidur lelap, ia akan berkata di akar hatinya: itu darahnya, itu ruhnya!

Tapi ketika ia memandang anaknya sedang merangkak dan belajar berjalan, ia akan berkata didasar jiwanya: itu hidupnya, itu harapannya, itu masa depannya! Itu silsilah yang menyambung kehadirannya sebagai peserta alam raya. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *