Press "Enter" to skip to content

Kepala Pusjarah TNI: Film Genta ‘Ayo ke Museum’ akan Lahirkan Nasionisme

JAKARTA – Pusat Sejarah (Pusjarah) TNI mengelar nonton bareng (nobar), film Genta ‘Ayo ke Museum’ garapan sutradra Alex Latief. Acara nobar juga dihadiri awak media, di bioskop di jalan Sabang, Jakarta Pusat, Senin (30/12/2019).

Kepala Pusjarah TNI, Brigjen Prantara Santosa dalam sambutannya mengatakan film Genta ‘Ayo ke Museum’ sebagai film literasi bermuatan sejarah yang melahirkan nasionalisme. Diriya berharap kedepan akan lahir generasi muda yang pintar dan bijak untuk Indonesia yang lebih baik.

“Harapnya, kalau anak kecil mengajak mamanya ke museum, film ini sudah sukses. Apalagi, film Genta ‘Ayo ke Museum’ juga sarat dengan muatan pendidikan,” ucapnya.

Prantara juga mengungkapkan, film Gents Ayo ke Museum’ merupakan obsesinya untuk mengajarkan generasi muda semakin peduli dengan sejarah kemerdekaan Indonesia yang didapat dari hasil perjuangan para pahlawan.
Dalam kesempatan itu, Kepala Pusjarah TNI Brigjen Prantara Santosa berkesempatan menyerahkan materi film kepada Pusat Pengembangan Perfilman agar bisa disosialisasikan pada tahun mendatang dibioskop keliling dan komunitas perfilman yang bernaung dibawah Pusat Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Film tersebut bercerita tentang Genta bersama dua sahabatnya tersesat ketika meninggalkan bus yang mogok dijalan. Pak Arif, guru yang membawa rombongan siswa SMP untuk study tour ke museum Keprajuritan TNI, tidak menyadari bahwa Genta, Cinta, dan Danar belum ikut naik ke dalam bus, ketika bus sudah berjalan.

Ketiga sahabat yang kebingungan tersebut mulai panik ketika Danar yang kakinya sedang sakit tidak lagi kuat berjalan. Beruntung mereka bertiga bertemu dengan Pak Wahyu, seorang lelaki paruh baya yang sebelumnya juga pernah di tolong oleh Genta dan kedua sahabatnya ketika mobilnya mogok.
Pak Wahyu yang bekerja di Museum Satria Mandala membawa Genta dan kedua sahabatnya berkunjung ke Museum Satria Mandala, sebelum mengantarkan mereka kembali ke tempat rombongan study tour di museum keprajuritan TNI.

Di museum Satria Mandala, Genta menemukan sebuah cerita petualangannya dalam menyelamatkan peti harta karun yang tersimpan di dalam museum. Genta yang tertidur dalam mimpinya bertemu seorang prajurit yang berasal dari patung yang hidup di dalam museum, Genta melawan tiga orang pencuri yang berniat ingin mengambil dan menguasai peti harta karun.

Sampai akhirnya Genta terbangun dan menyadari itu hanyalah mimpi dan setelah mendiskusikan mimpi tersebut dengan kedua sahabatnya. Namun, Genta meyakini bahwa mimpi tersebut adalah sebuah petunjuk, bahwasanya sejarah yang tersimpan di dalam museum adalah harta berharga yang harus mereka jaga sebagai generasi penerus bangsa agar tidak diambil dan dicuri. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *