Press "Enter" to skip to content

Magang, Pintu Mengejar Mimpi Ke Jepang

Dengan rasio ketersediaan kerja 1,2 (120 lapangan kerja untuk 100 orang pencari kerja – data Statistic Japan 2017), Jepang bisa dibilang surga bagi pencari kerja asing yang ingin mengubah nasib, terutama di sektor ‘skilled’. Dari 66,7 juta angkatan kerja dengan 2,1% saja penganguran (sekitar 2,8 juta orang) – itupun data volatil dan temporer karena pensiun, mengundurkan diri, pindah kerja, pencari kerja baru dan baru saja diberhentikan perusahaan – ada 1,3 juta posisi bagi pekerja asing yang segera menjadi sekitar 2 juta pada 2025. Asal tahu saja, Jepang tidak membedakan gaji dan fasilitas antara tenaga kerja lokal dan pendatang, kecuali di aspek perlakuan imigrasi, yang wajar terjadi.

Selain peluang yang lapang, ada banyak manfaat lain yang menjanjikan pekerja migran asing. “Dari sisi income, tidak dipungkiri ada lebih dari gaji yang bisa kami tabung dan kami kirim ke Indonesia,” kata Rahmat, perawat asal Indonesia. Bersama rekan-rekannya 12 orang perawat dan care worker yang beraudiensi dengan Timwas DPR RI untuk Pekerja Migran Indonesia, ia ceritakan suka duka. Pada level pekerja seperti dirinya yang telah lulus ujian nasional Jepang, gajinya bisa mencapai 37 juta rupiah.

Pergeseran struktur sosial dan perubahan orientasi industri di Jepang saat ini menyediakan lapangan kerja di sektor jasa yang makin besar. Di sektor medis, perawat, perawat lansia, keuangan dan asuransi, 72% lapangan kerja tersedia. Sebagai negara dengan industri yang menganut ‘long life employment’ maka semua di Jepang terstruktur, tersitematisasi dan terukur. Konsekuensinya, penyaringan masuk dalam dunia kerja juga ketat. Tapi begitu lolos, maka pekerja asing akan mendapatkan gaji sesuai kontrak dan UMR, hari libur, istirahat, asuransi kesehatan, asuransi tenaga kerja dan tabungan pensiun. Magang, sebagai kultivasi untuk calon pekerja yang saat ini diperpanjang kontrak minimum dari tiga menjadi lima tahun, memberikan manfaat lebih. Selain gaji minimal 100.000 Yen (sekitar 13,4 juta rupiah), pesertanya akan mendapat ketrampilan tambahan yakni kepemimpinan dan wirausaha. Berikutnya, mereka bisa memilih, melanjutkan magang jika mau dan memenuhi syarat, atau kembali ke Indonesia untuk berkarya atau membuka usaha.

Dalam hal magang, Indonesia dan Jepang telah lama bekerja sama, sejak 1993. Dalam kurun 25 tahun, 41.337 anak muda Indonesia telah mengenyam etos, produktivitas, mata rantai kerja nihil kesalahan dan teknologi di negeri Sakura. Namun ada lubang yang menganga. 3.000 peserta magang sebagai target tahunan Indonesia baru tercapai separuhnya. Jika kelemahan dalam hal promosi dan penyiapan magang tak dibenahi, Indonesia bisa makin jauh tertinggal oleh negara-negara lain yang agresif. Indonesia saat ini jauh tertinggal dari Vietnam yang memasok 88.725 pekerja magang. Tiongkok 80.858 dan Filipinan 22.764. Indonesia yang pernah jawara sekarang cuma punya 18.725.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *