Press "Enter" to skip to content

Media Harus Jadi ‘Corong’ Penyebar Semangat Kebangsaan Ditengah Gempuran Buzzer

ANYER – Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo meyakini ditengah derasnya gempuran digitalisasi dengan hadirnya pendengung (buzzer), hingga influencer yang terkadang menjadi referensi masyarakat untuk mendapatkan informasi, pers masih memiliki peran yang signifikan. Khususnya sebagai kekuatan publik yang merepresentasikan fungsi kontrol dan kritik rakyat terhadap jalannya roda pemerintahan.

“Dahsyatnya digitalisasi justru harus dijadikan tantangan bagi pers untuk memberikan pelayanan informasi yang mendalam, akurat, obyektif dan berimbang,” kata Bamsoet sapaan akrab politisi partai Golkar ini saat membuka acara Press Gathering Wartawan Koordinatoriat MPR RI di Anyer, Banten, Sabtu (5/9/2020).

Lanjut Bamsoet, sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif, pers turut memiliki tanggungjawab membangun masyarakat sehat yang melek informasi. “Sekaligus menjadi filter atas maraknya informasi menyesatkan yang begitu mudah tersebar melalui media sosial hingga menjadi viral,” ujarnya.

Mantan Ketua DPR RI ini menekankan, pers harus tetap mengedepankan etika jurnalistik dalam menyajikan informasi. Karena disitulah salah satu letak kekuatan pers, dibanding buzzer yang hanya bisa menghadirkan informasi bombastis tanpa makna dan cenderung malah menyesatkan serta membuat pembelahan sosial di masyarakat.

“Merawat kepribadian serta jati diri bangsa agar tak tergerus akibat pembelahan sosial karena hoax maupun hate speech, adalah tugas kolektif kita bersama, termasuk pers. Dengan jangkauan yang luas dan tingkat aksesibilitas yang tinggi, media massa mempunyai peran strategis dalam menyebarluaskan wawasan kebangsaan,” tandas Bamsoet.

Buzzer Seperti Kebal Hukum

Sedang Hidayat Nur Wahid mengaku geram dengan keberadaan buzzer. Pasalnya, di negeri yang menganut ideologi Pancasila masih ada saja orang yang melakoni peran memfitnah. “Padahal itu bertentangan dengan Pancasila dan ada pula yang mempercayai fitnahnya,” ucapnya.

Bahkan, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini semakin terheran-heran lantara para buzzer seperti kebal terhadap hukum. Sebab, tak jarang laporan terhadap mereka tidak di proses. “Jadi betul jika mereka membahayakan demokrasi,” tutupnya.

Terakhir, Bamsoet menambahkan bahwa pers telah menjadi salah satu mitra penting MPR RI dalam melaksanakan berbagai tugas konstitusional, terutama dalam mewujudkan visi MPR RI sebagai “Rumah Kebangsaan”, yang memposisikan MPR RI sebagai wadah sekaligus representasi dari beragam aspirasi, pemikiran serta arus perubahan.

“Kemajemukan adalah fitrah kebangsaan yang harus senantiasa dihormati dan dilindungi. Sebagai rumah kebangsaan, MPR RI menegaskan setiap warga negara merupakan bagian tak terpisahkan dari satu ikatan kebangsaan. Termasuk pers yang menjadi corong penyebar semangat kebangsaan, penyebar semangat gotong royong dan kebersamaan,” pungkas Bamsoet.

Sementara itu, Anggota DPD RI asal Riau, Instiawati Ayus menyatakan, sebagai perekat kebangsaan MPR juga idealnya menghasilkan terobosan solutif bagi politik uang yang harus diakui memang menjadi rahasia umum selama ini-terjadi meski Partai politik mungkin menyatakan ‘Tanpa Mahar’. “Ini kan orang mau mencalonkan diri, kadang masih harus beli perahu. Setelah perahunya ada, dayungnya juga harus dibeli,” kata Senator yang akrab disapa Iin itu.

Acara Press Gathering yang mengambil tema “MPR Rumah Kebangsaan” ini juga dihadiri wakil ketua MPR RI diantaranya, Syarif Hasan (F-Demokrar), Ahmad Muzani (F-Gerindra), Lestari Moerdijat (Fraksi NasDem), dan Hidayat Nur Wahid (Fraksi PKS) secara virtual, serta perwakilan DPD RI dan DPR. juga jajaran Kesetjenan MPR RI. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *