Press "Enter" to skip to content

Memahami HOAX dan Jejaring Maya di Sekitar Kita

Oleh: Endy Kurniawan *
COBA hitung kelompok insidentil yang Anda miliki, jejaring maya yang terjadi belakangan ini sejak media sosial –termasuk chat messenger– menjadi bagian dari hari-hari kita. Koneksi yang tiba-tiba ini menghubungkan kita dengan ratusan orang yang semula tak dikenal di Facebook, menjadi saling mengikuti di Twitter dan Instagram, atau menjadi sesama komentator di Youtube dan Blog.

Endy Kurniawan.

Accidental group, menurut James Ball dalam bukunya “Post Truth – How Bullshit Conquered The World” berperan besar dalam membentuk penyikapan manusia atas sebuah hubungan. Atas kejernihan menelan informasi dan mengapa hoax tumbuh subur.

Di Whatsapp, berapa banyak grup baru tercipta? Dalam kelompok alumni sekolah atau kampus, telah berapa tahun masing-masing anggotanya tak pernah berjumpa kemudian terhubung kembali karena satu-dua orang yang rela berkorban jadi admin dan undang satu persatu teman lamanya? Koneksi insidentil ini menyisakan sebuah hubungan yang rapuh.

Satu cara untuk nyaman dalam pergaulan grup – yang menjadi ciri fenomena seperti ini – adalah yang seperti Margaret Hefferman katakan yaitu konformitas. Dalam bukunya Willful Blindness ia menjabarkan sebuah penelitian yang menunjukkan konformitas adalah sebagian besar dari kita akan bertindak untuk menyesuaikan diri dengan kelompok bahkan ketika itu adalah kelompok yang penuh dengan orang asing.

Dalam upaya menjaga harmoni dalam grup tersebut, masing-masing anggota menghindari konflik. Maka jadilah grup ini lebih menyukai anekdot melebihi statistik. Jarang sekali dengan fitur tekstual dalam pertemanan media sosial kita membahas sangat dalam tentang sebuah tema. Video lucu dan meme lebih sering dibagikan untuk membuat saling nyaman dan tertawa. Di saat inilah hoax menyebar. Saringan menjadi longgar, literasi melemah dan daya kritis jadi pudar. Jadilah ini pintu pertama menyebarnya informasi tak valid dengan mudah.

Dibalik itu semua, pertemanan media sosial agaknya menyisakan apa yang disebut confirmation bias. Resonansi dan amplifikasi informasi yang terlihat mudah terjadi cukup dengan menekan tombol ‘bagikan’ ternyata sulit untuk mengubah keyakinan masing-masing individu. Di media sosial, terjadi fenomena Echo Chamber: “kami mencari dan menyimpan informasi yang menegaskan keyakinan kami, dan kami berjuang untuk menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinan kami”.

Itu sebabnya sulit memenangkan argumentasi secara online. Ketika Anda mulai mengeluarkan fakta dan angka, tautan, dan kutipan, Anda sebenarnya membuat lawan merasa seolah-olah mereka lebih yakin akan posisi mereka daripada sebelum Anda memulai debat. ***

* Penulisa adalah Wasekjen Inovasi & Hubungan Kelembagaan DPN Partai Gelora Indonesia

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *