Press "Enter" to skip to content

Memulai Keberanian #NewNormal

Twitter @fahrihamzah 22-24 Juni 2020

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah.

AKU tiba kembali di Jakarta. Airport sepi, tapi jalan raya kota ini penuh sesak… mereka mengunci corona di mana? Atau corona mengunci kita? Belum jelas, sepertinya adu nafas.. corona mati duluan atau kita gila duluan?

Ada pilihan lain, kita mulai lagi keberanian.. #NewNormal

Setelah keluar kota atau pulang kampung selama lebih dari sepekan, saya mengikuti beberapa kali Rapid Test berbayar… lalu tadi dilakukan PCR juga, Alhamdulillah negatif. Tapi saya sedih karena bayarnya cukup mahal kalau di total. Ini membebani rakyat. Bagi Ekonomi berat!

Saya baru tahu bahwa rupanya harga tiket pesawat Jakarta-Lombok kemarin jauh lebih murah dari biaya pemeriksaan kesehatan akibat melintas 3 pulau Jawa-Lombok-Sumbawa. Industri test dadakan ini mengeruk keuntungan besar sekali melampaui industri perjalanan yang sedang jatuh.

Kita sendiri menjadi melodramatik sebab sebagian dari test itu kita lakukan bukan karena dibutuhkan secara administratif tapi juga karena kita merasa tidak aman dengan diri kita. Sebagian dari kita sekarang sering was-was dengan keadaan bosan kita. Serba takut dan cemas.

Mungkin kalau kita demam, entah karena kurang tidur seperti saya malam ini atau akibat bakteri tertentu, kita akan bertambah cemas. Kita takut keluar rumah, khawatir kena pemeriksaan suhu badan dan kalau tinggi kita akan diangkut ke rumah sakit karantina terdekat.

Akhirnya kita memanggil rumah sakit untuk datang ke rumah dengan biaya yang berlipat karena memang begitulah konsekuensinya. Pemeriksaan oleh petugas medis yang juga curiga kepada kita ini pun berseragam APD seperti astronot mencari alien di sekitar kita. Suasana menegangkan.

Saya tidak akan meneruskan kemungkinan yang dramatis dan terjadi pada sebagian orang Indonesia terutama di kalangan menengah atas. Tapi saya hanya mencatat betapa nona Corona ini betul-betul membuat kita salah tingkah dan was-was. Banyak yang kita lakukan mulai tidak wajar.

Kita melihat orang memakai APD berbelanja di supermarket, petugas mencegat sebuah mobil yang di dalamnya suami isteri duduk di bagian depan. Padahal mereka baru saja keluar dati rumah yang sama bahkan tentu saja kamar dan tempat tidur yang sama. Banyak lagi perilaku tak wajar.

Nona Corona (saya sebetulnya tidak tahu apakah virus punya jenis kelamin) betul-betul membuat kita mengalami semacam kematian kecil sebelum mengalami kematian yang sebenarnya. Kita disuruh memakai topeng dan menjaga jarak sehingga kita akhirnya memang berjarak dengan kehidupan.

Di desa saya kemarin, saya melihat orang-orang yang melawan jarak ini, ada yang kemudian mengatakan, “Corona hanya ada di Jakarta” atau mengatakan dengan canda, “mana Corona itu biar kita hajar”. Ini mirip deklarasi di sebuah kota “deklarasi melawan corana secara totalitas”.

Semuanya aneh, Corona yang sudah hampir setengah tahun mewarnai percakapan kita ini tak kunjung dimengerti oleh kita cara menghadapinya. Kita sudah masa bodoh atau takluk juga tak jelas. Kemarin, Corona sudah memaksa kita menutup rumah ibadah, pasar, dan kantor pemerintahan.

Agama menurut saya menjadi korban paling besar, rumah Tuhan ditutup, ibadah berjamaah dihentikan bahkan kini ibadah haji pun tahun ini dihentikan. Agama bukannya diaktifkan dan kepada Allah kita semua memohon pertolongan, kita justru melakukan yang sebaliknya.

Dulu jika kita bertemu orang yang bersin, kita mendoakan. Dalam budaya orang barat mereka mengatakan “God Bless You” kiranya sama artinya kalau kita mengucapkan dalam agama Islam, “Yarhammukallah atau Semoga Allah merahmatimu”, setelah yang bersin mengucapkan Alhamdulillah.

Sekarang, kalau ada orang bersin kita lari tunggang-langgang, tidak mendoakannya dan seolah Tuhan tidak peduli dengan do’a kita. Sikap kita akan semakin selfish dan anti sosial. Kehidupan telah didorong untuk menjaga jarak dengan kemanusiaan. Semua menjadi berbayar dan berpamrih.

Meski kita mencoba keakraban dengan teknologi tetap saja tidak bisa mengganti kehangatan yang biasa kita tampakkan dengan pelukan dan jabat tangan. Silaturrahim sedang mendapatkan tantangan besar sementara elit masih saja ingin membuat pembelahan ideologis dan perbedaan.

Kita belum tahu akhir semua ini, tetapi kita disuruh memakai kata “new normal”. Dan kita juga belum tahu, apakah norma baru ini adalah kita yang dulu yang telah kita jalani berabad-abad? Tetapi, seperti saya usulkan: mari kita memulai sebuah keberanian.

Sebab hidup yang kita jalani dengan rasa takut dan perasaan tak berdaya adalah hidup yang akan berakhir dengan kesedihan, penderitaan dan kehinaan. Hidup kita tak boleh menyerah kalah. Hidup harus bangkit dan melawan! ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *