Press "Enter" to skip to content

Menkoperekonomian Minta Larangan EKspol Nikel Harus Mengacu pada Aturan

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menkoperekonomian), Airlangga Hartarto mengatakan, rencana terkait pelarangan ekspor Nikel ke luar negeri, yang resmi akan mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2020 mendatang, seharusnya tetap mengacu pada aturan yang sudah pernah diterbitkan oleh Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia.

Pernyataan yang disampaikan Airlangga kepada wartawan di Kantor Kemenkoperekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (29/10/2019).

Pernyataan Airlangga ini merupakan reaksi atau jawaban terkait adanya permintaan percepatan larangan ekspor dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia.

“Tunggu saja dulu, itu kan di ESDM sudah ada aturannya terkait larangan ekspor Nikel,” kata Airlangga

Sementara itu Kementerian ESDM sebelumnya secara resmi telah melarang ekspor biji nikel atau ore untuk semua jenis kualitas. Pelarangan ekspor tersebut dipastikan akan mulai efektif berlaku berlaku pada 1 Januari 2020 seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM No 11 Tahun 2019.

Pemerintah sendiri rencananya akan melarang ekspor bijih nikel kadar rendah di bawah 1,7 persen pada 2022. Izin ekspor hanya akan diberikan kepada para perusahaan tambang yang tengah membangun smelter di dalam negeri.

Dalam kesempatan ini, Airlangga menegaskan bahwa aturan ekspor biji nikel itu seharusnya tetap mengacu pada regulasi yang sudah ada.

Sementara itu Kepala BKPM Bahlil sebelumnya kepada wartawan menjelaskan bahwa pihkmya memastikan percepatan terkait kesepakatan itu sebenarnya tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri ESDM No 11 Tahun 2019.

Bahlil mengatakan bahwa pada intinya mereka menyadari bahwa hasil bumi dalam negeri perlu diberikan nilai tambah daripada hanya sekedar diekspor dalam bentuk mentah.

Bahlil menambahkan bahwa jika Nikel diekspor dalam kondisi mentah harganya hanya sekitar 45 Dolar Amerika (USD) per ton. Namun jika dengan nilai tambah maka harganya bisa memcapai 2.000 USD per ton. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *