Press "Enter" to skip to content

Prediksi Analis, Isu Resesi Pemicu Ambruknya IHSG, Segera Action

Alsyah Nadine.

JAKARTA – Isu resesi menjadi salah satu pemicu ambruknya IHSG. Jumat pekan lalu, perdagangan saham di dalam negeri libur Hari Raya Idul Adha, sehingga baru merespon kabar resesi yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Prediksi ini disampaikan Analis Ekonomi, Alsya Nadine dalam keterangan tertulisnya yang diterima faham.id, Selasa (4/8/2020) pagi ini.

Nadine memastikan, resesi akibat pandemi penyakit virus corona atau Covid-19, kini sudah terjadi di 3 benua. Dari Asia, Jepang, Singapura dan Hong Kong sudah sah resesi, sementara Korea Selatan mengalami resesi teknikal.

Dari Eropa, zona euro juga masuk ke jurang resesi, negara-negara besarnya bahkan berguguran. Jerman, Spanyol dan Italia resesi, sementara Prancis mengalami resesi teknikal. Dari Benua Biru beralih ke Benua Amerika, negeri Adidaya Amerika Serikat mengalami PDB minus terdalam sepanjang sejarah.

“Supaya tidak tersesat lebih jauh, sebaiknya kita pahami apakah itu resesi,” kata Nadine seraya menjelaskan bahwa suatu negara dikatakan mengalami resesi jika produk domestic bruto (PDB) minus 2 kuartal beruntun secara tahunan atau year-on-year, sementara jika secara kuartalan atau quarter-to-quarter (QtQ) dikatakan sebagai resesi teknikal.

Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II ini, menurut Nadine, sudah dipastikan negatif. Dari beberapa proyeksi menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 akan mencapai minus 4,..%. Namun untuk sah disebut resesi, perlu melihat perkembangan di kuartal III.

“Itulah sebabnya sebabnya Indonesia disebutkan berada di jurang resesi. Walau jika melihat beberapa perkembangan dari ekonomi Indonesia dan karakter serta aktivitas perekonomiannya dipastikan Indonesia sangat beda dari beberapa negara yang sudah berada di lembah resesi yang dalam. Untuk itu diperlukan action dan stop berwacana,” saranya.

Beberapa yang sudah direncanakan, lanjut Nadine, sebaiknya segera dieksekusi. Sebab jika sudah masuk ke jurang resesi, dipastikan tak mudah bangkit lagi dalam kondisi perekonomian dunia saat ini.

“Lebih lanjut, saya akan paparkan pada kesempatan lain,” ujar dia lagi.

Sedangkan kondisi dari kondisi global, jelas Nadine kombinasi naiknya saham teknologi seperti: Microsoft +5.6% & Apple +2.5% serta laporan emiten Ely Lilly memulai tahap akhir penemuan Vaksin Corona Virus, menjadi pendorong DJIA menguat sebesar +0.89% sebenarnya berpotensi menjadi katalis bagi market Indonesia, akan tetapi terhalang oleh penurunan EIDO sebesar -2.77% ditengah kekhawatiran kembali diberlakukannya lockdown seperti yang terjadi di Philippina serta pencapaian jumlah tertinggi kembali korban yang terjangkiti dan tewas akibat Corvid-19, dimana dihari Senin ada +1,679 orang terjangkit Corvid, sehingga sejauh ini korban terjangkiti Corvid-19 mencapai 111,134 orang (sukses jauh mengungguli China, diduga sebagai negara awal-muasal Virus Corona).

“Dengan penambahan korban tewas dihari Senin sebanyak +66 orang, sehingga sejauh ini jumlah korban tewas sudah mencapai 5,302 orang, menuju 6,000 orang tewas dalam waktu dekat ini. (Fatality Rate sebesar 4.69%)”, kata dia.

Dilain pihak, menurut ekonom yang mempelajari Ilmu ekonomi di Université Paris Nanterre- Perancis dan University of Miami USA ini, sebagian besar harga komoditas menguat seperti: Oil +0.84%, Nikel +1.40%, Timah +0.17% serta CPO +2.68% berpotensi mendorong naik saham-saham dibawah komoditas tersebut.

Lebih lanjut dibeberkannya, IHSG berhasil ditutup di atas dan Lower Wedge 4997. Level ini diharapkan mampu menopang pergerakan IHSG, atau setidaknya Dynamic Support MA50 di angka 4982 sanggup menahan penurunan lebih lanjut, sehingga tercipta trend naik yang solid. Para pemodal disarankan untuk Set your Trailing Stop juga disiplin dalam penerapan Cutloss demi mengamankan portfolio. Resistance terdekat berada pada MA20 di 5062 dan MA10 di 5088.

Mengetahui faktor penggerak IHSG cukup beragam dihari Selasa ini ditengah secara valuasi masih cukup banyak saham menarik untuk dibeli, Nadine merekomendasikan sangat selektif jika investor ingin melakukan BOW atau Swing Trade maka dapat fokus atas saham dari sektor Konsumer, Rokok, Retail, CPO, Bank, Infrastruktur dan Industri Dasar dalam perdagangan Selasa ini.

Nadine memprediksi, IHSG diperkirakan bergerak pada 4,956 – 5,057 adapun saham-saham yang direkomendasikannya hari ini adalah ICBP GGRM ERAA AALI UNVR BBCA INDF TOWR SMGR PTBA.

Di sisi lain, Nadine mencatat bahwa secara umum bursa saham di developed economies bergerak menguat. Bursa saham Benua Kuning bergerak bervariasi pada perdagangan senin kemarin. Indeks Hang Seng ditutup melemah sebesar -0.56%, lalu indeks Shanghai dan Indeks Kospi masing-masing ditutup menguat +1.75% dan +0.07%.

Sementara itu, Dow Jones ditutup menguat sebesar +0.89% di level 26,664 hal ini sejalan dengan penguatan S&P 500 sebesar +0.72%. Wall Street ditutup menguat akibat kinerja positif dan aksi korporasi emiten teknologi AS seperti Microsoft yang berencana membeli saham TikTok di AS, selain itu saham Apple yang akan melakukan stock split membuat kedua saham tersebut melesat diatas 2% dan data PMI manufaktur AS yang cukup memuaskan berada di level 54.2 Dari pasar komoditi, harga CPO menguat sebesar +2.52% harga Coalmenguat +1.25% dan harga Minyak Mentah WTI Crude Oil menguat +1.84%.

Pada perdagangan 3 Agustus IHSG ditutup melemah sebesar -2.78 kelevel 5,006 Sentimen penggerak pasar hari ini diantaranya menunggu perkembangan vaksin Corona di beberapa negara yang masih dalam pengujian, selain itu kekhawatiran investor akan rilis data GDP Indonesia yang diperkirakan akan berada pada level -4% sampai -5% menjadi katalis negatif pada minggu ini, demikian Nadine mengakhiri keterangannya. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *