Press "Enter" to skip to content

Semangat Multilaterism Dunia Dalam Bahaya

Foto : Internet

Oleh Achmad Nur Hidayat | Pengamat Kebijakan Publik

Semangat kerjasama antar bangsa (multilaterism) mengalami ancaman serius akhir-akhir ini.

Kesimpulan tersebut tersurat dalam pertemuan IMF WB Annual Meeting (AM 2018).

Werner Hoyer, Presiden Bank Investasi Eropa mengatakan bahwa pemimpin dunia telah lalai dalam bertindak bersama dalam konteks hubungan antar bangsa (world affair) dan dunia membutuhkan pendekatan baru yang fresh terkait multilaterism.

Harus diakui bahwa Pemimpin Amerika, Donald Trump dan pemimpin dunia lainnya, telah banyak mengancam semangat kerjasama antar bangsa. Kebijakan perang dagang dengan China, mengenakan impor tinggi, kenaikan suku bunga FFR, inisiatif Belt and Road China adalah contoh bagaimana dunia membawa ekonominya menuju isolasionism, regionalism dan proteksionism.

Kerjasama antar bangsa sangat dibutuhkan untuk melakukan koordinasi terkait isu-isu seperti infrastruktur, lingkungan, pemanasan global dan pemberantasan kemiskinan.

Namun Kebijakan Donald Trump dan pemimpin dunia lainnya menunjukan arah yang berbeda.

Mantan Gubernur Bank Sentral India, Raghuram Rajan mengatakan bahwa multilaterism mengalami kemunduran dan membutuhkan pemikiran baru untuk mengadopsi dinamika pergeseran kekuatan dunia.

Sebenarnya semangat multilaterism masih di hati para pemimpin global namun sinyal dari pemimpin negara yang memiliki kekuatan ekonomi tidak selalu baik terhadap semangat koordinasi antar bangsa.

Berpihak pada kepentingan domestik negaranya tanpa menghiraukan kepentingan bersama negara lain adalah hal yang lumrah terjadi.

Contohnya, Amerika yang melakukan kebijakan normalisasi moneter dalam negerinya telah menyebabkan kelemahan besar berbagai currency di dunia seperti Argentina, Turki, Brasil, Indonesia.

Indonesia melalui pernyataan dari Presiden Jokowi maupun Menteri Keuangan mengingatkan Amerika dan Uni Eropa untuk tidak terlalu cepat menaikan suku bunga Fed Fund karena dapat menganggu stabilitas ekonomi dalam negeri negara berkembang sepertinya tidak mendapatkan perhatian serius.

Pidato Jokowi tentang Game of Thrones menyiratkan pesan bahwa dunia tidak boleh terfragmentasi mengejar kepentingannya sendiri-sendiri sementara tantangan bersama yang harus dihadapi (global winter) semakin mengancam dan membahayakan.

Raghuram Rajan yang juga merupakan profesor di Chicago Boot University mengatakan bahwa kita mencapai satu titik dimana Amerika mengatakan bahwa (baca: multilaterism) sistem bukan tanggungjawabnya lagi.

Di kondisi seperti itu, negara lain akan menciptakan sistem baru yang mengakui kenyataan lingkungan dunia yang multipolar. Negara lain tersebut sedang berkompetisi merebut pengaruhnya di level dunia seperti China, Rusia, Jepang dan Uni Eropa.

Alicia Garcia, Chief Economist Asia Pacific Natixis tidak setuju dengan pendapat Rajan. Dia mengatakan bahwa dunia tidak siap dengan sistem multilaterism baru. Uni Eropa tidak siap untuk mengejar China. Eropa dan China juga tidak pernah setuju dengan tipe multilaterism yang ingin mereka capai.

Sistem baru multilaterism akan hadir bila ada masalah besar yang memaksa negara-negara dunia untuk meninggalkan zona nyaman dan kepentingan masing-masing

Kesimpulan

Jika kita proyeksikan perang dagang tidak menemukan kesepakatannya maka semangat multilateralism akan melemah seiiring dengan sedalam dan selama apa perang dagang AS-China berlangsung. Sementara dampaknya bagi perdagangan dunia dan pertumbuhan dunia jelas yaitu gangguan bagi pertumbuhan keduanya.

IMF sudah melakukan koreksi pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia. Awalnya ekonomi dunia dan Indonesia di proyeksi sebesar 3.9 % dan 5.3% dan pada saat IMF-WB AM 2018 berlangsung diumumkan menurun menjadi 3.7% dan 5.1%.

Banyak faktor yang menyebabkannya namun kondisi global yang tidak kondusif untuk semangat multilaterism menjadi faktor kritis yang dipertimbangkan khususnya semangat proteksionisme yang mengganggu perdagangan dunia. Sedihnya, dunia menuju arah sebaliknya dari semangat multilaterism menuju isolationism, regionalism dan protectionism. (END)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *