Press "Enter" to skip to content

Soroti Blusukan Mensos Risma, Fahri Hamzah Ingatkan Perbedaan Jadi Walikota dan Menteri

JAKARTA – Politikus Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah memberi tanggapan soal blusukan yang dilakukan oleh Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini. Ia menyebut, Risma harus diingatkan terkait perbedaan jadi Walikota dan Menteri.

“Staf-nya bu Risma harus kasih tahu beliau, beda jadi Walikota dan Menteri,” tulis Fahri dalam akun Twitter-nya @Fahrihamzah, Rabu (6/1/2021), menyoroti soal blusukan Risma di sejumlah tempat di Jakarta sebelumnya.

Fahri lalu menjabarkan perbedaan kerja Walikota dan Menteri, dimana perbedaan tidak saja pada filosofi, skala, juga metode. Menteri tidak dipilih tapi ditunjuk, kerja sektoral saja dan berlaku di seluruh negeri.

“Walikota dipilih, non sektoral tapi terbatas kota,” tulis mantan Wakil Ketua DPR RI Koordintor bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) periode 2014-2019 itu.

Menurutnya, masih banyak permasalahan yang dialami masyarakat di daerah terpencil, bukan di Jakarta. Di daerah terpencil, sebut Fahri, ada rakyat bunuh diri, bunuh keluarga, dan bahkan ada Ibu membunuh 3 anaknya karena melarat.

“Tadinya saya nggak mau tulis tapi ya salah. Kemiskinan itu bukan di Jakarta, di daerah terpencil sana. Tapi para penjilat dalam birokrasi ini jahat. Tega amat sih. Ayolah mulai dari data,” kata Fahri Hamzah.

Selanjutnya, Fahri yang kini menjabat Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia itu menyebutkan sejumlah tugas yang menurutnya sebagai kerja negara.

“Kalau ada data, analisa, keluar konsep, lapor presiden, hearing di DPR RI muncul kritik, muncul koreksi, publik nimbrung lalu bikin kesimpulan akhir, lalu eksekusi secara massif nasional melalui jalur-jalur struktural. Barulah masalah selesai. Itu kerja negara bukan kerja media,” sebut dia.

Oleh karena itu, Fahri memita kepada para staf yang ada di Kemensos untuk menyampaikannya ke Risma selaku atasannya, bahwa krisis ini akan panjang.

“Kalian sampaikan ke bu Menteri, krisis ini akan panjang. Karena ketimpangan, kemungkinan di daerah terpencil akan makin sulit. Tapi, orang desa nggak ribut. Memang yang bahaya orang miskin kota, ada politik ada kelas menengah yang advokasi. Tapi kerja pakai data,” jelasnya.

Di sisi lain, Fahri meminta Risma agar bekerja sebagai Mensos menggunakan konsep, juga pakai ilmu. Kerja pakai konsep dan jangan tiba masa tiba akal, sibuk dianggap sukses dan citra dianggap kinerja.

“Kita doakan siapapun yang memberi hatinya kepada rakyat jadi pemimpin di negeri ini. Apalagi situasi sulit, uang makin sedikit. Jadi tolong jangan sia-siakan waktu. Terima kasih,” pungkas Fahri Hamzah.

Tri Rismaharini sebelumnya menyatakan, tidak akan mengubah gaya kepemimpinannya. Ia akan tetap blusukan sebelum melakukan tugas rutin sebagai Mensos.

Mantan Walikota Surabaya ini bahkan sudah melakukan blusukan di hari pertama kerja sebagai Mensos, Senin (28/12/2020). Mulai dari bantaran kali, Risma dan rombongan bergerak ke Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis Pangudi Luhur di Bekasi.

Blusukan yang dilakukan Risma dimaksudkan untuk memotret permasalahan dari dekat, yang langsung dari titik permasalahan. Selain itu, Risma memotivasi mereka agar memiliki semangat memperbaiki taraf hidup, seraya menawarkan program pemberdayaan. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *