Press "Enter" to skip to content

Untuk PLN Ku yang (Tak) Sayang Kepada Rakyatnya

Oleh M. Solikin, M.Si (Pembina Beritabuana.co)
SEBAGAI rakyat, ijinkan saya menyampikan kesedihan yang dialami sebagaian besar rakyat negeri ini. Bermula dari keluar nya tagihan listrik pada bulan Juni 2020, dimana angkanya sangat fantastis (4 bahkan 6 kali lipat) dari tagihan rutin tertinggi sebelumnya.

Saya dapat info di media ada kebijakan bahwa selama masa pandemi virus corona atau Covid-19, petugas kalau tidak salah kurang lebih 3 bulan sebelumnya (petugas anda) tidak melakukan pencatatan meter listrik, alasan karena mencegah penularan Covid-19 terhadap perugas PLN, pembayaran oleh rakyat hanya di lihat dari rekening.

Sebelumnya, kami sangat gembira dan bangga atas kebijaksanaan tersebut, namun pada bulan Mei 2020 petugas anda mendatangi rumah-rumah dan melakukan pencatatan, sehingga tagihan yang muncul pada bulan Juni 2020 berdasarkan akumulasi meter terakhir. Sehingga nilai tagihannya ‘ambyar’ yang biasa bayar 100 sampai dengan 200 ribu rupiah, menjadi 800 ribu rupiah dan bahkan sampai 1 jutaan.

Sekiranya hal tersebut dalam kondisi normal, mungkin kami tidak akan teriak dan bingung. Namun disaat pandemi Covid-19 ini, yang sudah berjalan berbulan-bulan kami harus tinggal dirumah dan bahu membahu dengan pemerintah untuk mencegah penularan wabah tersebut, usaha kami hampir terpaksa terhenti dan tentunya berimbas pada pendapatan ekonomi kami.

Bahkan, kami saat ini bingung memilih berhemat untuk bisa bertahan hidup dari sisa uang kami, bahkan sebagian mungkin sudah tidak memiliki uang atau membayar tagihan listrik yang sangat besar pada bulan ini?

Kalau tau jadi begini tidak usah ada kebijakan sebelumnya penghentian pencatatan meter selama pandemi.

Kami berharap ada kebijakan dan rasa kemanusiaan dan kepedulian dari PLN terhadap besarnya nilai tagihan pada bulan Juni ini. Kalau bisa dipotong 50 %, sebagai bentuk empati atas kondisi ekonomi rakyat, atau diberikan kesempatan menyicil selama 5 bulan, dimana pada bulan ini diwajibkan bayar 25%, sisanya dicicil ditambahkan pada tagihan bulan berikutnya.

Situasi saat ini benar-benar sulit bagi kami. Kami tidak bisa usaha karena harus tinggal dirumah. Semoga masih ada kebijakan yang dapat meringankan beban rakyat ditengah pandemi Covid-19 saat ini yang belum ada kepastian kapan berakhirnya.

Semoga bisa menjadi pertimbangan. Suara rakyat jelata. ***

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *